husnalch11s's blog

EKSPANSI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI DAERAH SUMATERA UTARA

August 7th, 2011 · No Comments

Sumatera Utara sebagai salah satu sentral perkebunan kelapa sawit di Indonesia menghasilkan rata-rata 1,7 juta ton CPO per tahun. Jumlah ini mencapai 8,23 % dari total produksi CPO nasional per tahun. Luas perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara setiap tahun juga mengalami peningkatan. Peningkatan luas ini terjadi karena konversi lahan pertanian khususnya sawah, terutama di daerah Langkat, Serdang Bedagai dan Labuhanbatu.

Namun di sisi lain, perkebunan kelapa sawit menghadirkan ketimpangan kepemilikan, konflik tanah, ancaman ketahanan pangan dan kerusakan ekosistem. Sebagaimana telah dipaparkan, perluasan perkebunan kelapa sawit mencapai rata-rata 315.000. hektar/tahun, justru dimiliki oleh perkebunan kelapa sawit swasta asing. Bukan milik Negara.

Konversi lahan akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit setiap tahunnya cenderung meningkat. Di Sumatera Utara sebagai contoh, terjadi pengalihan fungsi lahan pertanian. Alih fungsi lahan pertanian tersebut terutama terjadi ke sektor kelapa sawit. Dan daerah yang terbesar mengalami pengalihan fungsi lahan adalah Tapanuli Selatan, Asahan dan Labuhan Batu. Dimana Labuhanbatu merupakan salah satu wilayah lumbung beras di Sumatera Utara.

Tingginya angka konversi lahan pertanian ini berdampak pada penurunan produksi padi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Sumut, Penurunan itu terjadi akibat berkurangnya lahan pertanian padi tiap tahun. Sementara itu, lahan pertanian juga dialihkan ke tanaman keras dan kawasan pemukiman. sehingga Luas lahan sawah berpengairan semakin berkurang, alih fungsi terbesar terjadi di Kabupaten Asahan , disusul Nias, Serdang Bedagai dan Langkat .

Keikutsertaan perusahaan besar berskala internasional, telah membuat perkembangan teknologi kelapa sawit melaju cepat. Sedangkan pertanian tanaman pangan berjalan terseok-seok menunjukkan tren menurun. Padahal, dari kondisi geografisnya, Sumut memiliki lahan potensial untuk mengembangkan tanaman pertanian, khususnya padi.

Permasalahan yang mendasar dalam ketahanan pangan adalah konversi lahan pertanian pangan. Semakin sempitnya lahan pertanian pangan yang tersedia, maka semakin sulit bagi petani untuk berproduksi secara optimal. Bagi pemerintah Sumatera Utara, hal ini sangat perlu diperhatikan.

Bagi pemilik lahan, mengonversi lahan pertanian untuk kepentingan nonpertanian saat ini memang lebih menguntungkan. Namun, bagi petani penggarap dan buruh tani, konversi lahan bisa menjadi masalah karena petani penggarap dan buruh tani tidak serta-merta bisa beralih pekerjaan. Kondisi demikian tentu saja akan menimbulkan persoalan sosial yang menyangkut pengangguran atau kesempatan kerja.

Diperkirakan minyak kelapa sawit akan menjadi komoditas yang paling banyak  diproduksi, dikonsumsi dan paling banyak diperdagangkan di dunia. Pengembangan kelapa sawit di Sumatera Utara sebagaimana wilayah lainnya di Indonesia memang tergantung dari perundang-undangan pemerintah pusat. Tetapi, status otonomi daerah dan ketahanan pangan (padi) setidaknya dapat dijadikan dasar argumentasi untuk menahan laju ekspansi perluasan lahan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Utara.

→ No CommentsTags: General